Konflik
antara Anak dan Orangtua
Pengertian Konflik
antara Anak dan Orangtua
Konflik antara anak dan orangtua adalah wujud dari adanya emosi marah.
Emosi marah tersebut berupa luapan kekecewaan, kekesalan, dan kebencian yang
kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata, dan
tindakan. Marah timbul karena ketidaksepakatan
akan sesuatu atau kejadian yang membuat tidak nyaman (Wulandaru, 2013).
Penyebab Konflik antara Anak dan Orangtua
Kesenjangan pola pikir antara anak dan
orangtua. Sebagian
orangtua tidak peduli dengan kesenjangan pola pikir. Mereka lebih memilih untuk
memaksa anak memahami pola pikirnya dibanding mencoba memahami pola pikir anak
(Dwiyani, 2014). Padahal orangtua yang baik ingat seperti apa rasanya menjadi
anak. Karena dengan berpikir seperti anak ditambah pengalaman sebagai seorang
dewasa bisa menjadi sebuah kombinasi yang baik (Bharadia, 2013).
Lelah fisik dan mental. Ketika seorang ayah lelah bekerja
seharian dan ibu yang bekerja di rumah ataupun yang kerja di luar rumah
mengalami kendala dalam pekerjaan. Tanpa sadar mereka membawa permasalahan ke
rumah (Dwiyani, 2014).
Pola asuh yang berlebihan. “Kerugian nyata dari pola asuh yang
berlebihan: Anak-anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang ketakutan, yang
tidak pernah belajar untuk menguasai ketakutan, atau orang dewasa tidak tegas
yang tidak pernah belajar cara membuat keputusan” (Heins dikutip dalam
Bharadia, 2013, h. 66).
Tidak siap dengan perbedaan. Meskipun anak adalah darah daging
orangtuanya, tetapi belum tentu anak tersebut mempunyai paradigma, pendapat,
sikap, bahkan perilaku yang sama dengan orangtuanya (Dwiyani, 2014).
Salah dalam menyikapi perbuatan anak. Terkadang orangtua bersikap buruk
terhadap anak karena orangtua ingin terlihat tegas. Mereka tidak melihat dengan
seksama apakah anak benar-benar bersalah (Dwiyani, 2014). Sebagian orangtua
sangat takut gagal menjadi orangtua yang baik, jadi mereka mengimbanginya
secara berlebihan dengan mencoba terlalu keras (Bharadia, 2013).
Kenakalan Anak. Orangtua
marah tanpa kendali biasanya terjadi karena perilaku anak. Contohnya anak belum
mau mandi, belum mau gosok gigi, belum mau makan, membuat berantakan dapur, dan
hal – hal lain (Dwiyani, 2014).
Alasan
dari Perilaku Anak yang Buruk
Mencari
perhatian. Mencari
perhatian adalah perilaku dimana anak secara aktif memprovokasi atau menyerang
dengan cara yang tidak dapat diabaikan oleh orangtua. Walaupun mengganggu dan
menjengkelkan (Balson, 1993).
Mendemonstrasikan kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pembangkangan,
temper tantrum, sikap keras kepala, kebiasaan “buruk”, suka beragumentasi,
penyimpangan, kebohongan, dan gertakan (Balson, 1993).
Mengadakan pembalasan. Anak sering merasa diperlakukan
tidak adil dengan orangtuanya. Sehingga mereka mengejar tujuan untuk membalas
orangtuanya dengan berperilaku buruk (Balson, 1993).
Melarikan diri dengan menarik diri. Anak yang sedang berputus asa tidak
lagi berharap pengakuan apapun dan berhenti melakukan usaha apapun. Anak
seperti ini memperlihatkan keputusasaan, kebodohan, kemalasan, ketidakmampuan,
dan kelambanan (Balson, 1993).
Kasus
Konflik antara Anak dan Orangtua
Kasus Tomy anak kelas dua SD. Tomy membeli sepeda dari hasil uang
tabungannya, lalu ditambah dengan uang ibunya. Ketika bermain di rumah temannya sepeda Tomy hilang. Orangtua
Tomy marah dan menghukumnya. Hukumannya adalah tidak boleh ikut makan malam dan
membeli sepeda lagi (Dwiyani, 2014).
Penyebab kemarahan orangtua Tomy. Orangtua Tomy menaruh harapan besar pada anaknya. Harapan
agar benda tersebut memberikan tambahan nilai dalam kehidupan anak. Kemarahan
yang ditunjukkan oleh orangtua Tomy menggambarkan kekecewaan karena harapan
yang besar atas Tomy dinilai sia-sia (Dwiyani, 2014).
Dampak bagi Tomy.
Perasaan Tomy menjadi bercampur aduk antara sedih, menyesal, dan kesal. Tomy
sedih karena orangtuanya tidak bisa mengerti perasaannya. (Dwiyani, 2014).
Strategi
Mengatasi Konflik antara Anak dan Orangtua
Saling mendukung dan menghibur. Dukungan atas emosi buruk yang menekan
membuat anak menjadi lebih tenang dan mampu diajak merefleksi diri (Dwiyani,
2014).
Menyikapi perbuatan anak secara
benar. Dalam memarahi atau menghukum anak,
orangtua harus melihat lebih dalam apa yang membuat mereka melakukan perbuatan
tersebut. Hal apa yang membuat anak melakukan perbuatan buruk (Dwiyani, 2014).
Menciptakan waktu kebersamaan dengan anak. Dengan sikap tersebut anak akan
merasa diperhatikan oleh orangtuanya. Karena ketika anak berulah, itu adalah
cara ia menarik perhatian (Dwiyani,
2014).
Tidak memaksa anak berpikir seperti
orangtua berpikir. Anak
belum bisa memahami bahwa setiap penyebab akan memunculkan respon yang berbeda
(Dwiyani, 2014).
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orangtua harus
memahami kondisi atau pola pikir dalam menyikapi kenakalan anak. Karena
perbuatan buruk anak pasti memiliki penyebab dan tujuannya.
DAFTAR PUSTAKA
Balson, M. (1993). Menjadi orangtua yang lebih baik.
Jakarta: Binarupa Aksara.
Bharadia, R. (2013). Roots & Wings 3. Jakarta: Gramedia.
Dwiyani, V. (2014). Tolong dengarkan aku. Jakarta: Elex
Media Komputindo.
Wulandaru, W. (2013). Marah yang bijak. Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar