Rabu, 05 November 2014

Karya Tulis Mata Kuliah Penulisan Ilmiah

Konflik antara Anak dan Orangtua

Pengertian Konflik antara Anak dan Orangtua
     Konflik antara anak dan orangtua adalah wujud dari adanya emosi marah. Emosi marah tersebut berupa luapan kekecewaan, kekesalan, dan kebencian yang kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata, dan tindakan. Marah  timbul karena ketidaksepakatan akan sesuatu atau kejadian yang membuat tidak nyaman (Wulandaru, 2013).

Penyebab  Konflik antara Anak dan Orangtua
     Kesenjangan pola pikir antara anak dan orangtua. Sebagian orangtua tidak peduli dengan kesenjangan pola pikir. Mereka lebih memilih untuk memaksa anak memahami pola pikirnya dibanding mencoba memahami pola pikir anak (Dwiyani, 2014). Padahal orangtua yang baik ingat seperti apa rasanya menjadi anak. Karena dengan berpikir seperti anak ditambah pengalaman sebagai seorang dewasa bisa menjadi sebuah kombinasi yang baik (Bharadia, 2013).
     Lelah fisik dan mental. Ketika seorang ayah lelah bekerja seharian dan ibu yang bekerja di rumah ataupun yang kerja di luar rumah mengalami kendala dalam pekerjaan. Tanpa sadar mereka membawa permasalahan ke rumah (Dwiyani, 2014).
     Pola asuh yang berlebihan. “Kerugian nyata dari pola asuh yang berlebihan: Anak-anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang ketakutan, yang tidak pernah belajar untuk menguasai ketakutan, atau orang dewasa tidak tegas yang tidak pernah belajar cara membuat keputusan” (Heins dikutip dalam Bharadia, 2013, h.  66).
     Tidak siap dengan perbedaan. Meskipun anak adalah darah daging orangtuanya, tetapi belum tentu anak tersebut mempunyai paradigma, pendapat, sikap, bahkan perilaku yang sama dengan orangtuanya (Dwiyani, 2014).  
     Salah dalam menyikapi perbuatan anak. Terkadang orangtua bersikap buruk terhadap anak karena orangtua ingin terlihat tegas. Mereka tidak melihat dengan seksama apakah anak benar-benar bersalah (Dwiyani, 2014). Sebagian orangtua sangat takut gagal menjadi orangtua yang baik, jadi mereka mengimbanginya secara berlebihan dengan mencoba terlalu keras (Bharadia, 2013).
     Kenakalan Anak. Orangtua marah tanpa kendali biasanya terjadi karena perilaku anak. Contohnya anak belum mau mandi, belum mau gosok gigi, belum mau makan, membuat berantakan dapur, dan hal – hal lain (Dwiyani, 2014).

Alasan dari Perilaku Anak yang Buruk
     Mencari perhatian. Mencari perhatian adalah perilaku dimana anak secara aktif memprovokasi atau menyerang dengan cara yang tidak dapat diabaikan oleh orangtua. Walaupun mengganggu dan menjengkelkan (Balson, 1993).
     Mendemonstrasikan kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pembangkangan, temper tantrum, sikap keras kepala, kebiasaan “buruk”, suka beragumentasi, penyimpangan, kebohongan, dan gertakan (Balson, 1993).
     Mengadakan pembalasan. Anak sering merasa diperlakukan tidak adil dengan orangtuanya. Sehingga mereka mengejar tujuan untuk membalas orangtuanya dengan berperilaku buruk (Balson, 1993).
     Melarikan diri dengan menarik diri. Anak yang sedang berputus asa tidak lagi berharap pengakuan apapun dan berhenti melakukan usaha apapun. Anak seperti ini memperlihatkan keputusasaan, kebodohan, kemalasan, ketidakmampuan, dan kelambanan (Balson, 1993).
    
Kasus Konflik antara Anak dan Orangtua
     Kasus Tomy anak kelas dua SD. Tomy membeli sepeda dari hasil uang tabungannya, lalu ditambah dengan uang ibunya. Ketika bermain di rumah temannya sepeda Tomy hilang. Orangtua Tomy marah dan menghukumnya. Hukumannya adalah tidak boleh ikut makan malam dan membeli sepeda lagi (Dwiyani, 2014).
     Penyebab kemarahan orangtua Tomy. Orangtua Tomy menaruh harapan besar pada anaknya. Harapan agar benda tersebut memberikan tambahan nilai dalam kehidupan anak. Kemarahan yang ditunjukkan oleh orangtua Tomy menggambarkan kekecewaan karena harapan yang besar atas Tomy dinilai sia-sia (Dwiyani, 2014).
     Dampak bagi Tomy. Perasaan Tomy menjadi bercampur aduk antara sedih, menyesal, dan kesal. Tomy sedih karena orangtuanya tidak bisa mengerti perasaannya. (Dwiyani, 2014).

Strategi Mengatasi Konflik antara Anak dan Orangtua
     Saling mendukung dan menghibur. Dukungan atas emosi buruk yang menekan membuat anak menjadi lebih tenang dan mampu diajak merefleksi diri (Dwiyani, 2014).
     Menyikapi perbuatan anak secara benar.  Dalam memarahi atau menghukum anak, orangtua harus melihat lebih dalam apa yang membuat mereka melakukan perbuatan tersebut. Hal apa yang membuat anak melakukan perbuatan buruk (Dwiyani, 2014).
     Menciptakan waktu kebersamaan dengan anak. Dengan sikap tersebut anak akan merasa diperhatikan oleh orangtuanya. Karena ketika anak berulah, itu adalah cara ia menarik  perhatian (Dwiyani, 2014).
     Tidak memaksa anak berpikir seperti orangtua berpikir. Anak belum bisa memahami bahwa setiap penyebab akan memunculkan respon yang berbeda (Dwiyani, 2014).

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orangtua harus memahami kondisi atau pola pikir dalam menyikapi kenakalan anak. Karena perbuatan buruk anak pasti memiliki penyebab dan tujuannya. 

DAFTAR PUSTAKA

Balson, M. (1993). Menjadi orangtua yang lebih baik. Jakarta: Binarupa Aksara.
Bharadia, R. (2013). Roots & Wings 3. Jakarta: Gramedia.
Dwiyani, V. (2014). Tolong dengarkan aku. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Wulandaru, W. (2013). Marah yang bijak. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar