Selasa, 11 November 2014

Tugas akhir mata kuliah penulisan ilmiah


Cara Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Latar Belakang
     Terdapat banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Contohnya kasus suami istri Eli (30) dan Elo (31) (nama disamarkan), mereka sudah menikah selama lima tahun. Eli seorang perempuan yang suka bekerja di kantor. Sementara Elo tipe laki-laki yang tidak melarang istri bekerja tetapi tidak suka istrinya pulang larut malam. Suatu saat Eli mengalami kecelakaan cukup parah sepulangnya lembur. Setelah peristiwa itu, Elo dan Eli menjadi sering bertengkar. Eli melakukan kekerasan psikis, seperti berkata kasar, merendahkan, dan menghina. Sementara Elo melakukan kekerasan fisik, seperti mencekal, mendorong, mencekik, dan mengancam akan membunuh (Poerwandari & Lianawati, 2010). 
     Kekerasan dalam rumah tangga merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Berbagai fakta menunjukkan kasus kekerasan rumah tangga mengalami kenaikan setiap tahunnya. Hal itu terjadi karena banyak orang tidak tahu cara untuk mengatasinya sehingga kekerasan tersebut terus berlangsung. Padahal cara mengatasi dampak kekerasan rumah tangga dapat dilakukan melalui berbagai aspek, seperti hukum, sosial, dan psikologis.
 
Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga 
     Kekerasan rumah tangga menurut UU no 23 tahun 2004. Kekerasan rumah tangga menurut Undang- Undang dikutip dalam Poerwandari dan Lianawati (2010)  adalah:
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan  atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (h. 1)

     Kekerasan rumah tangga menurut Grant. “Kekerasan rumah tangga adalah pola perilaku menyerang dan memaksa, termasuk serangan secara fisik, seksual, dan psikologis, juga pemaksaan secara ekonomi, yang dilakukan orang dewasa kepada pasangan intimnya” (Grant dikutip dalam Fathiyah, Nurhayati, & Harahap, 2011, h. 189).
 
Bentuk-Bentuk Kekerasan Rumah Tangga
     Terdapat berbagai bentuk kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, seperti (a) kekerasan fisik, (b) kekerasan psikis, (c) kekerasan seksual, dan (d) kekerasan ekonomi. Kekerasan fisik adalah tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit, luka, memar, patah tulang hingga menyebabkan kematian (Setaman, 2008). Kekerasan psikis adalah suatu perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan rasa takut, depresi, tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri dan kemampuan untuk bertindak (Lianawati, 2008). Kekerasan ekonomi adalah suatu tindakan dimana suami tidak memberi nafkah kepada keluarga dan melarang istri bekerja untuk mendapatkan uang. Kekerasan seksual adalah suatu tindakan pemaksaan untuk melakukan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan tidak disukai oleh pasangannya (Setaman, 2008).
 
Faktor Penyebab Kekerasan Rumah Tangga
     Terdapat banyak faktor yang menyebabkan kekerasan rumah tangga, seperti (a) budaya, (b) hukum, (c) agama, dan (d) media. Pertama, budaya patriarkhi yang menempatkan laki-laki di atas perempuan (Suratno, 2006). Sistem budaya yang menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan harus diutamakan dapat membuat perempuan dianggap lebih rendah. Perempuan dianggap sebagai objek dan pendamping sedangkan laki-laki sebagai subjek dan penentu segala tindakan. Kedua, sistem hukum terutama di Indonesia yang menguntungkan pihak-pihak berkuasa atau yang lebih memiliki uang (Poerwandari & Lianawati, 2010).
     Ketiga, pemahaman dan penerapan ajaran agama yang keliru. Banyak teks tentang ajaran agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai hasil penafsiran yang salah. Keempat, peniruan (modelling) karena terbiasa menyaksikan tindakan yang mengandung kekerasan. Contoh kekerasan diperoleh melalui media elektronik dan media cetak (Suratno, 2006).
 
Dampak Korban Kekerasan Rumah Tangga
     Dampak fisik. Beberapa dampak fisik dari kekerasan rumah tangga, yaitu luka, rasa sakit, memar, patah tulang, dan keguguran (Poerwandari & Lianawati, 2010). Kekerasan fisik dapat menimbulkan korban jatuh sakit dan luka berat. Hal tersebut tentu akan memengaruhi kegiatan korban. Penyembuhan yang terlalu lama juga dapat menimbulkan disabilitas hingga kematian (Lianawati, 2008).
     Dampak psikis. Kekerasan dalam rumah tangga juga dapat memengaruhi kondisi psikis seseorang. Dampaknya dapat berupa distres, trauma, ketakutan, perasaan terancam, kebingungan, tidak berdaya, serta sulit untuk berpikir dan berkonsentrasi. Selain itu kegiatan sehari-hari atau rutinitas, seperti makan dan tidur juga terganggu. Hal yang lebih buruk adalah tidak bersedia merawat diri dan kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain (Poerwandari & Lianawati, 2010).

Cara Mengatasi Dampak dari Kekerasan Rumah Tangga
     Cara mengatasi dampak dari kekerasan rumah tangga dapat dilakukan melalui berbagai aspek, seperti (a) hukum, (b) sosial, dan (c) psikologis.
     Aspek hukum. Proses hukum mencakup proses yang dijalani korban kekerasan untuk memerjuangkan keadilan atas pelanggaran hak yang dimilikinya. Korban yang ingin menggunggat pelaku secara pidana harus melewati proses peradilan pidana. Prosesnya yaitu pemeriksaan oleh aparat kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan (Lianawati, 2008). Terdapat UU no 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Isi UU tersebut adalah definisi, ruang lingkup,  bentuk, penanganan, dan sanksi pidana bagi pelaku kekerasan rumah tangga (Poerwandari & Lianawati, 2010). 
     Aspek sosial. Lingkungan sosial merupakan sumber yang dapat membantu mengatasi kekerasan dan dampak yang diakibatkan. Lingkungan sosial ini dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan korban. Dukungan ini berupa perhatian, kepedulian, materi, nasihat, petunjuk, dan saran-saran. Tujuan dilakukannya dukungan sosial agar korban merasa diperhatikan, didengar, dihargai, dan dicintai. Dukungan sosial ini juga dapat memberikan rasa aman untuk mengatasi kondisi psikis korban. Dukungan sosial dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti orangtua, saudara, anak, kerabat, rekan kerja, dan tetangga. Orang yang dapat memberi dukungan adalah orang yang berarti dan dapat dipercaya oleh korban (Fathiyah, Nurhayati, & Harahap, 2011).
     Aspek psikologis. Penyembuhan dari aspek psikologis dapat dilakukan dengan konseling. Pelaku yang melakukan konseling adalah pelaku yang dapat menyadari kesalahannya dan belum melakukan tindakan berbahaya yang mengancam nyawa pasangannya. Konseling akan berjalan efektif apabila dilakukan oleh konselor terlatih. Konseling akan berhasil bila saran dari konselor diikuti oleh pelaku (Poerwandari & Lianawati, 2010).
 
Simpulan
     Sekarang ini banyak terjadi kasus kekerasan rumah tangga. Kekerasan rumah tangga tersebut termasuk kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Berbagai bentuk kekerasan yang dialami dapat memberikan dampak buruk bagi korban dan orang di sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan wawasan yang luas mengenai faktor penyebab dan cara untuk mengatasinya, baik dari segi hukum, sosial, dan psikologis. Melalui pengetahuan yang luas diharapkan kasus kekerasan dalam rumah tangga dapat berkurang.

DAFTAR PUSTAKA
Fathiyah, K. N., Nurhayati, S. R., & Harahap, F. (2011, April). Pengembangan model dukungan sosial bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga. Jurnal Penelitian Psikologi, 2(1), 187-200.
Lianawati. (2008, September). Psikologi feminis dalam proses hukum kasus KDRT. Arkhe: Jurnal Ilmiah Psikologi, 13(2), 116-130.
Poerwandari, K., & Lianawati, E. (2010). Petunjuk pejabaran kekerasan psikis untuk menindaklanjuti laporan kasus KDRT. Jakarta: Universitas Indonesia.
Setaman, K. (2008). Hak dan kewajiban istri ataukah kekerasan dalam rumah tangga. Jakarta: Yayasan Puan Amal Hayati.
Suratno. (2006, Maret). Hermeneutika dan perempuan (hermeneutika pembebasan perempuan dari tindak kekerasan berbasis penafsiran). Jurnal Universitas Paramadina, 4(2), 117-143.


 

 

 

 

Rabu, 05 November 2014

Karya Tulis Mata Kuliah Penulisan Ilmiah

Konflik antara Anak dan Orangtua

Pengertian Konflik antara Anak dan Orangtua
     Konflik antara anak dan orangtua adalah wujud dari adanya emosi marah. Emosi marah tersebut berupa luapan kekecewaan, kekesalan, dan kebencian yang kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata, dan tindakan. Marah  timbul karena ketidaksepakatan akan sesuatu atau kejadian yang membuat tidak nyaman (Wulandaru, 2013).

Penyebab  Konflik antara Anak dan Orangtua
     Kesenjangan pola pikir antara anak dan orangtua. Sebagian orangtua tidak peduli dengan kesenjangan pola pikir. Mereka lebih memilih untuk memaksa anak memahami pola pikirnya dibanding mencoba memahami pola pikir anak (Dwiyani, 2014). Padahal orangtua yang baik ingat seperti apa rasanya menjadi anak. Karena dengan berpikir seperti anak ditambah pengalaman sebagai seorang dewasa bisa menjadi sebuah kombinasi yang baik (Bharadia, 2013).
     Lelah fisik dan mental. Ketika seorang ayah lelah bekerja seharian dan ibu yang bekerja di rumah ataupun yang kerja di luar rumah mengalami kendala dalam pekerjaan. Tanpa sadar mereka membawa permasalahan ke rumah (Dwiyani, 2014).
     Pola asuh yang berlebihan. “Kerugian nyata dari pola asuh yang berlebihan: Anak-anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang ketakutan, yang tidak pernah belajar untuk menguasai ketakutan, atau orang dewasa tidak tegas yang tidak pernah belajar cara membuat keputusan” (Heins dikutip dalam Bharadia, 2013, h.  66).
     Tidak siap dengan perbedaan. Meskipun anak adalah darah daging orangtuanya, tetapi belum tentu anak tersebut mempunyai paradigma, pendapat, sikap, bahkan perilaku yang sama dengan orangtuanya (Dwiyani, 2014).  
     Salah dalam menyikapi perbuatan anak. Terkadang orangtua bersikap buruk terhadap anak karena orangtua ingin terlihat tegas. Mereka tidak melihat dengan seksama apakah anak benar-benar bersalah (Dwiyani, 2014). Sebagian orangtua sangat takut gagal menjadi orangtua yang baik, jadi mereka mengimbanginya secara berlebihan dengan mencoba terlalu keras (Bharadia, 2013).
     Kenakalan Anak. Orangtua marah tanpa kendali biasanya terjadi karena perilaku anak. Contohnya anak belum mau mandi, belum mau gosok gigi, belum mau makan, membuat berantakan dapur, dan hal – hal lain (Dwiyani, 2014).

Alasan dari Perilaku Anak yang Buruk
     Mencari perhatian. Mencari perhatian adalah perilaku dimana anak secara aktif memprovokasi atau menyerang dengan cara yang tidak dapat diabaikan oleh orangtua. Walaupun mengganggu dan menjengkelkan (Balson, 1993).
     Mendemonstrasikan kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pembangkangan, temper tantrum, sikap keras kepala, kebiasaan “buruk”, suka beragumentasi, penyimpangan, kebohongan, dan gertakan (Balson, 1993).
     Mengadakan pembalasan. Anak sering merasa diperlakukan tidak adil dengan orangtuanya. Sehingga mereka mengejar tujuan untuk membalas orangtuanya dengan berperilaku buruk (Balson, 1993).
     Melarikan diri dengan menarik diri. Anak yang sedang berputus asa tidak lagi berharap pengakuan apapun dan berhenti melakukan usaha apapun. Anak seperti ini memperlihatkan keputusasaan, kebodohan, kemalasan, ketidakmampuan, dan kelambanan (Balson, 1993).
    
Kasus Konflik antara Anak dan Orangtua
     Kasus Tomy anak kelas dua SD. Tomy membeli sepeda dari hasil uang tabungannya, lalu ditambah dengan uang ibunya. Ketika bermain di rumah temannya sepeda Tomy hilang. Orangtua Tomy marah dan menghukumnya. Hukumannya adalah tidak boleh ikut makan malam dan membeli sepeda lagi (Dwiyani, 2014).
     Penyebab kemarahan orangtua Tomy. Orangtua Tomy menaruh harapan besar pada anaknya. Harapan agar benda tersebut memberikan tambahan nilai dalam kehidupan anak. Kemarahan yang ditunjukkan oleh orangtua Tomy menggambarkan kekecewaan karena harapan yang besar atas Tomy dinilai sia-sia (Dwiyani, 2014).
     Dampak bagi Tomy. Perasaan Tomy menjadi bercampur aduk antara sedih, menyesal, dan kesal. Tomy sedih karena orangtuanya tidak bisa mengerti perasaannya. (Dwiyani, 2014).

Strategi Mengatasi Konflik antara Anak dan Orangtua
     Saling mendukung dan menghibur. Dukungan atas emosi buruk yang menekan membuat anak menjadi lebih tenang dan mampu diajak merefleksi diri (Dwiyani, 2014).
     Menyikapi perbuatan anak secara benar.  Dalam memarahi atau menghukum anak, orangtua harus melihat lebih dalam apa yang membuat mereka melakukan perbuatan tersebut. Hal apa yang membuat anak melakukan perbuatan buruk (Dwiyani, 2014).
     Menciptakan waktu kebersamaan dengan anak. Dengan sikap tersebut anak akan merasa diperhatikan oleh orangtuanya. Karena ketika anak berulah, itu adalah cara ia menarik  perhatian (Dwiyani, 2014).
     Tidak memaksa anak berpikir seperti orangtua berpikir. Anak belum bisa memahami bahwa setiap penyebab akan memunculkan respon yang berbeda (Dwiyani, 2014).

Simpulan
     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orangtua harus memahami kondisi atau pola pikir dalam menyikapi kenakalan anak. Karena perbuatan buruk anak pasti memiliki penyebab dan tujuannya. 

DAFTAR PUSTAKA

Balson, M. (1993). Menjadi orangtua yang lebih baik. Jakarta: Binarupa Aksara.
Bharadia, R. (2013). Roots & Wings 3. Jakarta: Gramedia.
Dwiyani, V. (2014). Tolong dengarkan aku. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Wulandaru, W. (2013). Marah yang bijak. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 

Selasa, 07 Oktober 2014

DAY 11



 
 
 
 




Kaitan Filsafat dan Psikologi
Sesi pertama
Kami diajak melihat beberapa video
Video pertama menggambarkan hal – hal yang berhubungan dengan kognitif.
Video kedua menggambarkan keindahan seni
Video berikutnya kami diajak untuk melihat hubungan kita dengan keluarga , baik ayah dan ibu.
Kita diajak untuk melihat hal – hal yang dapat dibanggakan dalam keluarga kita, menulis hal – hal positif yang ada dalam ayah dan ibu kita. Lalu mencocokkan sikap kita dengan sikap ayah, ibu kita.
Sesi kedua
Dalam sesi kedua kami diajak untuk melihat berbagai aliran – aliran yang ada dalam psikologi.
Dimana aliran – aliran itu ada aliran:
1. Elementisme / strukturalisme
Tokoh : Wilhelm Wundt
Seorang sosiolog, filsuf, pakar hukum, dokter, psikolog
Mendirikan lab psikologi pertama di Leipzig  tahun 1879
Pada saat yang kurang lebih sama, di AS William James juga mengadakan eksperimen
Bedanya Wundt berusaha menemukan struktur jiwa, James mencari fungsi dari jiwa.



2. Fungsionalisme


  • Dipelopori oleh William James
  • Tujuannya untuk menjelaskan mind/ jiwa berdasarkan fungsinya
  • Metode : introspeksi, eksperimen, observasi tingkah laku




3. Behaviorisme
Tokoh – tokohnya : John B.Watson, Ivan Pavlov, dan B.F Skinner
Hal yang diukur : efek lingkungan terhadap perilaku yang tampak pada manusia dan binatang
Dasar pemikiran : hanya mengamati kejadian – kejadian yang bisa dipelajari secara ilmiah



 
4.Psikoanalitis


Tokoh : Sigmund Freud, Carl Gustav Jung
Hal yang diukur : perilaku berasal dari proses yang tidak disadari
Dasar pemikiran : motif yang tidak disadari dan kepribadian dan gangguan mental pada masa kanak – kanak.



5.Humanistik
Tokoh : Carl Roger, Abraham Maslow
Hal yang diukur: keunikan pengalaman manusia
Dasar pemikiran: manusia itu bebas, rasional dengan perkembangan pribadi, dan sangat berbeda dengan binatang






Secara umum peranan filsafat dalam psikologi adalah
  • Filsafat bisa menegaskan akar historis imlu psikologi. Seperti kita tahu, psikologi, dan semua ilmu lainnya, merupakan pecahan dari filsafat.
  • Dalam filsafat  kita bisa menemukan refleksi – refleksi yang cukup mendalam tentang konsep jiwa dan perilaku manusia
  • Filsafat bisa memberikan kerangka berpikir yang sistematis, logis, dan rasional bagi para psikolog, baik praktisi maupun akademisi.
  • Filsafat juga menyumbangkan metode fenomenologi sebagai alternatif pendekatan ilmu psikologi. Fenomenoloi sendiri memang berkemabang di dalam filsafat.
  • Filsafat juga mengangkat asumsi – asumsi yang terdapat di dalam ilmu psikologi
  • Filsafat juga  bisa berperan sebagai fungsi kritik terhadap asumsi tersebut. Kritik disini buan diartikan sebagai kritik yang menghancurkan, tetapi sebagai kritik konstruktif,  supaya ilmu psikologi bisa berkembang kea rah yang lebih manusiawi, dan semakin mampu memahami realitas kehidupan manusia.
Sumber:
- Kapita Selekta Kbk Filsafat
- Modul dan penjelasan tentang filsafat psikologi
 
                                                                                                           Salam Hangat,
                                                                                                                Audrey
 


DAY 10











Eksistensialisme
Apa itu eksistensialisme??
  • Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.
  • Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
  • Etimologis: ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.
  • Pusat diriku terletak di luar diriku. Ia menemukan pribadinya dengan seolah-olah keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya.
  • Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi tidak bisa disamakan dengan ‘berada’. Pohon, anjing berada, tapi tidak berseksistensi.
Ciri – ciri eksistensialisme
  • Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
  • Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
  • Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
  • Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Eksistensialisme menurut Kierkegaard
Siapa Kierkegaard ??

  • Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di Univ. Kopenhagen, tapi tidak selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis.
  • Sempat menjauh dari temannya dan agama.
  • Sempat bertunangan dengan Regina Olsen, tapi tidak jadi menikah.
  • 1849 kembali lagi ke agamanya (Kristen).
  • Meninggal 1855 sebagi orang religius dan dipandang sebagai tokoh di gerejanya.
  • Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme, aliran filsafat yg berkembang 50 tahun setelah kematiannya.

Pokok – pokok ajaran Kierkegaard
Ada tiga cara bereksistensi: tiga sikap terhadap hidup, yaitu: sikap estetis, sikap etis dan sikap religius :
  • Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yang amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
  • Sikap etis: Sikap menerima kaidah - kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.
  • Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam Yesus agar bisa berjumpa dengan Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita bisa menjadi seperti yang kita percayai.
Eksistensialisme menurut Jean Paul Sartre

Siapa itu Jean Paul Sartre ??
  • Lahir di Paris 1905
  •  1929 menjadi guru
  • 1931-1936 dosen filsafat di Le Havre
  • 1941 menjadi tawanan perang
  • 1942-1944 dosen Loycee Pasteur
  • Banyak menulis karya filsafat dan sastra. Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.
Pemikiran filsafat Sartre
  •  Sulit menjabarkan pemikiran filsafat Sartre secara singkat.
  • Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran.
  • Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
  • Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab.
  • Tanggungjawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggungjawab terhadap diri kita sendiri.
  • Dibedakan ‘berada dlm diri’ dan ‘berada untuk diri’
  • Berada dalam diri = berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Misalnya: meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tidak aktif. Mentaati prinsip it is what it is. Maka, bagi Sartre  segala yang berada dalam diri: memuakkan.
  • Sementara berada untuk diri = berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada. Mis: Manusia bertanggungjawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tapi manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
  • Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri, melainkan kesadaran diri.
Kebutuhan Manusia
  • Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.
  • Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat semata -  mata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.
Komunikasi dan cinta
  • Komunikasi = suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah - olah  membekukan org lain.  Terjadi saling pembekuan sehingga masing- masing jadi objek.
  • Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.
Sumber :
slide show dan penjelasan yang diberikan oleh romo Carolus Suharyanto,Lic.Theol.
http://www.latheotokos.it/modules.php?name=News&file=print&sid=584
http://jeriwb.com/on-my-mind-the-will-to-change-1912/


                                                                                                           Salam Hangat,

                                                                                                                Audrey
 
 
 
 
 
                                     
 

DAY 9

Field Trip Kampung Betawi

 
}  Kampung Betawi diresmikan tanggal 20 Januari 2001 oleh Gubernur Sutiyoso.
}  Kampung Betawi adalah hasil musyawarah antara rakyat dan Pemprov DKI.
}  Luas Kampung Betawi 289 hektar dengan 4 RW, yaitu RW 6,7,8,9.
}  Objek wisata di Kampung Betawi dibagi 3, yaitu:

  1. Objek wisata budaya (rumah adat, kesenian, joglo, dll)
  2. Objek wisata agro
  3. Objek wisata air

 
SENI DAN BUDAYA
Pementasan
}  Lenong
}  Topeng
}  Tanjidor
}  Marawis
}  Gambang Kromong




Pakaian
}  Baju adat Betawi untuk laki-laki disebut Sadaria (peci, cukin, baju koko)
}  Baju adat Betawi untuk perempuan disebut Kebaya atau Encim




Kuliner
}  Dodol
}  Kerak telor
}  Wajik
}  Geplak
}  Kembang goyang
}  Gulali




Batik Betawi



}  Tahun 2013, keluarga batik betawi didirikan.
}  Ada 12 sanggar batik betawi
}  Ciri khas dari batik betawi adalah warnanya yang cerah.






Bahasa Betawi
Bahasa Betawi ada 2 jenis, yaitu:
  1. Bahasa Betawi Pinggir: menggunakan bahasa seperti bahasa Indonesia. Contohnya: “siapa” tetap menjadi “siapa”
  2. Bahasa Betawi Tengah: menggunakan dialek bahasa Melayu. Contohnya: “siapa” menjadi “siape”
Tarian
}  Tari Lenggang Nyai
}  Tari Topeng Betawi
}  Tari Yapong

Refleksi
}  Betawi kaya akan seni dan budaya, oleh karena itu budaya betawi harus terus dilestarikan.
}  Pemerintah juga harus lebih menggalakkan dan memperhatikan budaya betawi, karena selama ini budaya betawi sudah hampir hilang.
}  Tata krama dalam masyarakat betawi juga harus terus dijaga. 

ETOS KERJA
Pada field trip ke Perkampungan Budaya Betawi kemarin, kami tidak hanya belajar mengenai kebudayaan di sana, tetapi kami juga belajar tentang etos kerja yang dilakukan oleh para pedagang yang ada di tempat ini.
Berikut ini adalah hasil wawancara kami dengan para pedagang di tempat ini.




Nama: Ade
Pekerjaan: Penjual es potong
}  Usia : 24 tahun
}  Lama bekerja :  5 tahun , sebelumnya kerja serabutan
}  Pengalaman Indah : Pada saat berjualan banyak pembeli, sehingga mendapat banyak masukan  dan jika cuaca cerah
}  Pengalaman buruk : pada saat musim hujan , karena pemasukan menjadi berkurang
}  Keluarga : Sudah berkeluarga dan mempunyai anak , berumur satu tahun
}  Keuntungan berjualan :  Cukup untuk biaya hidup sehari hari
}  Nilai religi : Rajin sholat
}  Nilai – nilai kehidupan : Kita harus komitmen dalam peraturan, seperti antara karyawan dan bos
}  Harapan : ingin mempunyai usaha sendiri



Nama: Yayat
Pekerjaan: Penjual ketupat sayur
}  Usia : 24 tahun
}  Lama bekerja : 3 tahun
}  Pengalaman indah : Saat bekerja dapat bertemu teman baru
}  Pengalaman buruk : Saat jualan sepi
}  Pendapatan : 200 ribu per hari
}  Keluarga: Sudah berkeluarga , mempunyai 1 anak, berumur 7 tahun
}  Tujuan berjualan: Mampu untuk membiayai kehidupan sehari hari dan untuk membayar kontrakan
}  Nilai religi: Rajin sholat
}  Nilai – nilai kehidupan: Kita harus rajin, dan taat beribadah, misalnya yang dicontohkan oleh Pak Yayat dengan sholat sebelum bekerja.

Nama: Mini
Pekerjaan: Penjual gorengan dan   kerupuk
}  Usia : 45 tahun
}  Lama bekerja : 5 tahun
}  Pengalaman baik : Dengan bekerja dapat menyekolahkan anak
}  Pengalaman buruk : Jika pada saat berjualan tidak laku atau sepi
}  Keluarga : Sudah berkeluarga dan mempunyai tiga anak berumur 25, 30, 35 tahun. Suami sakit sejak tahun 2009
}  Nilai religi : mengikuti pengajian , dan rajin sholat
}  Nilai – nilai kehidupan : Kita harus rajin, seperti yang dicontohkan oleh Bu Ani dengan siap – siap bekerja dari jam tiga pagi , dan kreatif

Nama: Mawar
Pekerjaan: Penjual umang- umang
}  Usia : 66 tahun
}  Lama bekerja : 4 tahun, sebelumnya jual pakaian
}  Umang – umangnya diambil langsung dari Padang, Ia beli  dari nelayan
}  Pengalaman baik : Saat ramai pengunjung, dan tempat berjualan selalu aman
}  Pengalaman buruk : Menurut Pak Mawar, selama ini belum ada
}  Keluarga : sudah berkeluarga mempunyai  4 anak dan 3 cucu
}  Tujuan berjualan : untuk mengisi waktu luang
}  Pendapatan : bervariasi, kalau hari Minggu bisa 600 ribu
}  Nilai Religi : taat beribadah ( sholat )
}  Nilai – nilai kehidupan :  harus fokus , disiplin 


Nama: Achmad
Pekerjaan: Buruh sekaligus pembuat jala ikan
}  Usia : 59 tahun
}  Lama bekerja : Sejak kecil
}  Pengalaman Indah : Saat bekerja selalu damai , dan tenteram
}  Keluarga : sudah berkeluarga mempunyai 3 anak dan 5 cucu
}  Nilai religi : taat beribadah
}  Nilai kehidupan : Tanggung jawab sama keluarga
 

Nama: Husein
Pekerjaan: Penjual Gulali
}  Usia : 37 tahun
}  Lama bekerja : 10 tahun, sebelumnya bekerja di konveksi
}  Keluarga : sudah berkeluarga, mempunyai 2 anak, kelas 5 SD dan TK
}  Pengalaman indah : Saat berjualan laku
}  Pengalaman buruk : Pada saat diundang ikut acara, tetapi tempatnya udah penuh
}  Pendapatan : kira kira 100 ribu per hari
}  Keuntungan : Dapat untuk menyekolahkan anak , dan membuat rumah
}  Nilai religi : Rutin sholat
}  Nilai kehidupan : bersyukur dan tidak mudah putus asa

Nama: Dewi
Pekerjaan: Penjual dodol
}  Usia : 34 tahun
}  Lama bekerja : 6 tahun jualan
}  Dodolnya dibuat sendiri
}  Pendapatan : Kalau sepi 100 ribu, kalau banyak pembeli seperti saat lebaran bisa 3 juta per hari
}  Pengalaman indah : kalau dagangan habis
}  Pengalaman buruk: Pada saat hujan karena langsung bubar
}  Keluarga : sudah berkeluarga dan punya 2 anak
}  Nilai religi : ada mushola jadi pasti akan sholat
}  Nilai kehidupan : harus kreatif, misalnya kalau hari libur dagangan banyak, produk dibuat berbagai variasi 

Nama : Edoy
Pekerjaan: Penjual Cincau
}  Usia : 50 tahun
}  Lama bekerja : 12 tahun
}  Cin caunya diambil dari orang lain
}  Keluarga : sudah berkeluarga, dan punya tiga anak , berumur 6, 16, dan 20 tahun
}  Pengalaman Indah : Saat hari raya atau hari libur banyak pembeli
}  Pengalaman buruk : Saat sepi/jualan tidak laku
}  Pendapatan : kalau sepi 20 ribu
}  Keuntungan : Cukup untuk kebutuhan sehari hari
}  Nilai religi : taat ibadah
}  Nilai Kehidupan : harus punya komitmen dan rajin

Refleksi
}  Dalam kehidupan kita sehari hari, terutama saat bekerja kita harus mengutamakan Tuhan, menjalankan komitmen yang telah dibuat, rajin, fokus saat bekerja, disiplin dan bersyukur.
}  Selain itu kita juga harus mengingat keluarga kita.

Pengaruh Globalisasi terhadap Budaya Betawi
Ø  Negatifnya:
      Bahasa Betawi Tengah mulai hilang karena pengaruh dari budaya-budaya lain.
Ø  Positifnya:
      Batik Betawi mulai dikenal masyarakat luar Indonesia
 
 

Sumber :
Bang Adi, petugas di kampung betawi
Orang - orang di kampung betawi
Pengalaman hasil field Trip
 
                                                                                                             Salam Hangat,
                                                                                                       Audrey